Selasa, 08 Desember 2009

Moment Terakhir Saya dengan Kakak

Hari ini hujan turun rintik-rintik tak berhenti, saya keluar ruangan kantor dan memandang ke atas langit yang mendung, rintik-rintik air hujan turun perlahan membasahi wajah ini. Saya tetap memandang ke atas langit, tetes air itu datang begitu saja dari atas. Subhanallah.

Rintik hujan ini mengingatkan kepada almarhum kakak. Sudah 11 tahun, kakak kandung saya meninggal. Ia meninggal di usia 35 tahun pasca melahirkan anak pertamanya yang baru berusia 4 hari. Waktu itu saya, hanya bertemu semalam dengannya. Sebab sebelumnya saya berada di Bandung, dan hari ke tiga saya baru bertemu dengannya.
Malam ke-empat, pasca melahirkan saya ngobrol dengannya.
Kakak : Neng, jika nanti kakak sudah sehat, kakak akan pergi ke sekolah dan mengajar seperti biasa, titip si Ujang ya neng. Nama bayinya sudah Kakak tulis di buku yang biasa Kakak bawa ke sekolah.
Ia menitipkan putra pertamanya juga kepada Ibu.
Saya : O iya, tentu saya akan menjaganya Kak. Dia kan keponakan pertama saya.
Malam berlanjut, saya tidur dengan kakak dan si bayi mungil.
Besok paginya, ketika waktu Dhuha, Kakak meminta untuk diantar mandi. Katanya Ia ingin membersihkan diri selepas melahirkan 3 hari kebelakang. Saya pun menyiapkan air panas. Selepas mandi, kakak bersolek memakai pakaian barunya, dan membedaki wajahnya serta menyemprotkan wewangian ke tubuhnya. Ia tampak cantik, meski guratan lelah diwajahnya selepas melahirkan masih saya lihat.
Kemudian Kakak menyusui sang bayi dengan penuh kasih dan sayangnya. Si bayi tertidur pulas.
Kakak kemudian mengambil air putih dan meminumnya. Beberapa menit kemudian tiba-tiba ia, tersengal dan mengeluhkan sakit didada. Saya terkejut. Ia kemudian terjatuh, dan saat itulah Malaikat maut menjemputnya. Kulihat Kakak melirik sejenak ke anaknya yang tertidur pulas.
Aku panik. Menjerit. Ibupun ikut menjerit. Ibu mendekap kakak, membisikan kalimat takbir berkali-kali. Allahu Akbar!Alahu Akbar. Kakak menutup mata untuk selamanya.
Aku semakin menjerit. Menjerit sekuatnya. Ibu masih mendekap Kakak, Ia meronta dan menjerit pula. Air mata tak kuasa kubendung. Kiamat kecil telah datang kepada Kakak. Allah SWT memanggilnya. Saya tak kuasa menerima kenyataan saat itu. Saya baru bertemu, semalam kemudian kakak meningalkan untuk selamanya.
Peristiwa itu saya kenang terus, itu adalah moment terakhir saya dengan kakak.
Betapa sesak dada ini ketika mengenangnya. Air mata selalu menyertainya.
Semoga Amal ibadah Kakak di terima oleh Allah.

Bolehkah saya mengenang moment terakhir itu, ya Allah?
Mengapa begitu cepat saya harus berpisah dengan Kakak?
Ia adalah saudara kandung saya satu-satunya?
Andai ia masih ada, tentu ia akan jadi anak kebanggaan ayah dan ibu ?
Andai ia masih ada, tentu aku mempunyai saudara untuk berbagi tentang kehidupan ini, berbagi tentang suka dan duka, berbagi kegembiraan tentang kehadiran anak saya.

Mungkin Allah SWT mempunyai rencana lain.
Dan saya percaya rencana Allah adalah yang terbaik.

Salam






Rabu, 02 Desember 2009

Ia


Ia

Ketika si matahari hendak pergi,
ketika itu kami bertemu
Ia tidak berubah,
masih mencintaiku, meski ia sudah beristri.

Ia begitu berharap,
Tapi tidak mungkin dan saya tidak mau
mohon maaf

Apa daya Si Manis telah merebut hatiku kala itu,
dan Ia bukan jodohku,

Saya tersenyum ketika ingat ia merayuku,
Tapi Tuhan menutup hatiku saat itu.

salam

Minggu, 29 November 2009

Untuk Teh Ai

Hari minggu kemarin, saya menginap di Ciamis. Pagi-pagi benar, Teh Ai telpon minta tolong untuk mengecek pengumuman hasil tes CPNS di Departemen Agama Kabupaten Tasikmalaya yang diumumkan tanggal 28 hari Sabtu kemarin. Saya segera meluncur ke lokasi, hati ikut berdebar karena ada perasaan sedih juga jika Teh Ai tidak lolos. Teh Ai adalah kakak ipar saya, ia sudah hampir 12 tahun mengabdi menjadi tenaga guru honorer di sebuah MI (Madrasah Ibtidaiyah) di kampung kami.
Teh Ai, memang sudah belasan tahun mengabdi menjadi tenaga guru kelas di MI, pengabdiannya yang cukup lama memang membuatnya tidak ada pilihan lain untuk mencari pekerjaan lain selain menjadi guru dan tercatat untuk menjadi seorang PNS. Profesi guru di kampung merupakan sebuah profesi yang dihormati, meskipun diakui gajai dan tunjangannya masih harus terus diperjuangkan. Ketika saya berbincang dengan Teh Ai, mengenai profesi guru, ia berpendapat bahwa guru merupakan profesi yang mulia, profesi yang paling ia dambakan agar bisa mengabdi dan membantu anak-anak disekitar kampung kami yang notabene kekurangan guru, guru juga menjadi figur bagi masyarakatnya, ada istilah guru digugu dan ditiru, meski gajinya boleh dibilang harus terus ditingkatkan.
Perjuangan Teh Ai, selama hampir 12 tahun menjadi tenaga honorer guru terus ia lakukan dengan tabah, penuh kepercayaan dan pengabdian untuk terus memberikan asuhan pada anak didiknya. Sangat miris ketika saya mengetahui honor yang ia terima tiap bulan untuk profesi guru honorernya, apalagi ia telah berkeluarga dan memiliki 2 orang putri. Menjadi guru, adalah cita-cita Teh Ai sejak ia keluar Mandrasah Aliyah.
Teh Ai, sudah sering mengikuti tes CPNS dan selalu gagal, konon terbentur oleh orang lain yang lebih "cerdik" atau oleh apalah yang jelas sulit menembus untuk lolos tes ini, meski dikatakan dimedia massa "kali ini tes betul-betul bersih". Mengiktui tes CPNS seperti masuk ke lubang jarum, peserta tes membludak dan yang diterima hanya seorang atau dua orang untuk satu jurusan.
Jam 12 siang, matahari membakar kepala hingga ubun-ubun. Saya membesut si merah menuju lokasi pengumuman. Hasil pengumuman ditempel di papan pengumuman, orang-orang berdesakan, ingin melihat hasil pengumuman tersebut. Sayang, hasil pengumuman tersebut tidak di up load di internet dan media massa (yang sy tahu). Akhirnya saya ikut berdesakan, keringat mengucur deras, mata sampai difokuskan kepada hasil pengumuman.
Akhirnya, Alhamdulillah Teh Ai LULUS.....
dalam hati saya berucap syukur, dan sujud syukur atas keberhasilan ini.
Saya langsung telpon Teh Ai, dan mengabarkan berita ini. Diujung telpon, terdengar isak tangis Teh Ai. Ujung dari perjuangannya sebagai guru honorer berakhir. Ia berucap Hamdalah beberapa kali. Saya ikut gembira dan terharu. Ia kini punya pekerjaan tetap, gaji tetap dan setidaknya masa depan keluarganya sudah mulai terlihat.
Terima kasih ya Allah, doa dan harapan Teh Ai terwujud. Mudah-mudahan guru honorer lain yang jumlahnya masih banyak dinegeri ini mereka bisa terangkat posisi dan kedudukannya menjadi guru tetap.semoga saja.
Amin.
(temen-temen ada yang pernah mengikuti tes CPNS?)

Selasa, 24 November 2009

Begitu sulit bagi mereka begitu mudah bagi mereka yang lain

Hari ini saya mulai membuka blog lagi, setelah seminggu lebih ditekan beban pekerjaan yang begitu padat. Pulang dari Bengkulu, cukup melelahkan setelah beberapa tempat dibengkulu selatan dan daerah Kaur yang saya datangi. Bukan survey tapi sebuah kegiatan merekam kemajuan sebuah program yang didanai dana blockgrant dari pemerintah pusat.
Bukan suatu yang aneh ketika saya datang, para pengelola program memang memiliki aneka ragam alasan ketika program yang mereka kelola tidak berjalan. Yang jelas saya hanya merekam kemajuan program dan daya serap anggaran yang telah mereka lakukan. Saya hanya bisa meluruskan dan memberikan input sekaligus memberikan laporan ke atasan atas perkembangan program yang saya monitoring. Mudah-mudahan terjadi perbaikan.
Dalam perjalanan pulang saya merekam sebuah pemandangan kehidupan,
A. Ada orang yang begitu mudah mendapatkan pemenuhan kebutuhan hidupnya (mendapatkan uang) dan ia tidak begitu peduli cara yang ia peroleh entah halal atau tidak
B. Ada orang yang begitu sulit memenuhi kebutuhan hidupnya (mendapatkan uang) dan ia sangat peduli dengan cara yang ia peroleh untuk mendapatkannya.
C. Ada orang yang hanya butuh waktu sebentar dalam bekerja kemudian ia mendapatkan uang dengan mudahnya tanpa peduli halal dan tidaknya
D. Ada orang yang harus bekerja semalaman kemudian ia hanya mendapatkan uang yang sedikit.
Ah entahlah...semua tergantung kemampuan kita dalam memandang kehidupan ini.
Semoga temen-temen semua dalam keadaan sehat walafiat..
salam

Kamis, 12 November 2009

Kau,..ke Bengkulu Neng....

Bismillahirahmanirrahim,
Surat tugas datang malam ini, seorang teman menunjukkannya.
,"Kau, ke Bengkulu Neng minggu ini. Monitoring dan supervisi program. masih ingat kan konsep supervisi dan monitoring waktu kuliah dulu, jangan menjadi petugas yang merasa paling bisa, paling tahu, jangan menunjukkan arogansi sbg pemeriksa, tunjukkan bahwa kita sebagai rekan yang bisa diajak ngobrol, lebih pada "sharisme" bukan sebagai pencatat kesalahan , gunakan pendekatan kemitraan sejajar lebih pada kolegial, dan berikan pemecahan bagi masalah yang mereka temui, dokumentasikan dalam tulisan dan buat analisis tindaklanjutnya,".
," O ke Bengkulu," . Ke Kabupaten mana?,"
," Bengkulu selatan dan Kaur,".
," Tiket pesawatnya sedang disiapkan,"
,'ini berkas-berkasnya, pelajari dulu, dan jaga kesehatan. Bengkulu Selatan dan Kaur cukup jauh dari Kota Bengkulu. Sekitar 200 sampai 250 kilometer. Ada angkutan darat berupa mobil umum dan travel dari Bandara Fatmawati,". Selamat bertugas, semoga lancar dan sukses.

Dalam hati kecil, tadinya jika ditugaskan ke Bengkulu saya berharap ke Kabupaten Kepahyang, sebab menurut berita Bunga Raflesia (bunga bangkai) pada bulan ini sedang mulai tumbuh bahkan sebagian sudah ada yang mekar di bukit kepahyang. Saya ingin menyaksikan secara langsung bunga bangkai ini di daerah aslinya.
Berkunjung ke Bengkulu meski bukan yang pertama, memang menyisakan pengalaman tersendiri.
Baiklah..bro and sis..doakan yah..
salam

Rabu, 11 November 2009

Pagi semua...

Hari ini saya datang pagi sekali di kantor, bahkan para petugas cleaning service pun belum pada datang. Sengaja saja, sebab ada beberapa file yang harus diprint dan siang ini harus ke perpustakaan nyari bahan untuk paper yang belum rampung. Ketika saya sudah duduk di meja ini para petugas cleaning service baru datang jam 6.30. Aktifitas mereka sudah mulai bergerak, mulai menyapu, membersihkan meja kerja, kursi kerja dan tentunya mengepel lantai. Wuiihh..wangi banget ni, ma kasih pak....mereka mengangguk..

Salut sekali bagi mereka, para cleaning service ini. Meski saya tahu benar penghasilannya mungkin tidak cukup bagi kehidupan mereka (;menurut saya), tapi aktifitas dan semangat kerja mereka begitu tinggi. Bayangkan, setiap hari mereka datang pagi. (ups kalau saya mungkin ga bisa seperti itu, apalagi temen-temen lain yang biasa datang kesiangan).
Saya sendiri merasa kurang enak jika datang kesiangan, tapi orang lain kok sepertinya biasa-biasa saja. Meski diakui dikantor, ketepatan waktu bukan segalanya yang penting tugas terselesaikan. Para cleaning service, mungkin sudah memiliki ideologi bekerja yang bener-bener tertanam dihati mereka. (hihihihi..ideologi bekerja saya apa yah?)...hihihi senyum sendiri. Ideologi bekerja para cleaning service itu mungkin sama dengan saya, bahwa hidup harus selalu diusahakan, bekerja adalah caranya, meski efeknya masih minimal, suatu saat pasti berubah jika kita terus berusaha. Semoga saja.
Salam untuk semua bloger dimanapun...

Kamis, 05 November 2009

Tukang Kiridit. (Kredit) Tasik...

Alhamdulillah, jumat pagi ini begitu indah. Sinar mentari menerobos meja kantorku, hingga membelai pipi kiriku,diusapinya, diakrabi nya dengan kehangatan. Terima kasih ya Allah. Meski jauh dari tanah tercinta Tasikmalaya, aku masih bisa menikmatinya. perlahan belaian kehangatannya turun menjauh seiring detak waktu yang terus memburu siang.

.....Tasikmalaya merupakan sebuah Kabupaten yang ada diwilayah Priangan timur, dari kota Bandung, ke arah timur. Berbatasan dengan Garut disebelah barat, Ciamis disebelah timur, Sumedang di sebelah Utara dan Lautan Hindia di eebelah selatan....

Berbicara tentang tanah tercinta, Tasikmalaya. Saya teringat beberapa catatan dan celotehan.
Dengar, kata Tasik saja, kita teringat tentang tukang kiriditnya (tukang kredit), Rhoma Irama si Raja Dangdut juga berasal dari tasik, para pengrajin ayaman bambu, pandan, bordier, kelom geulis,payung geulis, kampung naga dan terakhir gempa tasik yang cukup mengguncang 2 bulan kebelakang.
Tukang kredit memang melekat dengan orang tasik. Tukang kredit, berasal dari dua kata, tukang dan kredit. Kata tukang menggambarkan sebuah profesi, sedangkan kredit adalah sebuah aktifitas. Tukang kredit adalah orang yang berprofesi dengan aktifitas kredit.

Kredit berasal dari bahasa Latin “credere” artinya percaya. Karena itulah kredit dalam arti luas adalah kepercayaan. Maksud dari percaya di sini, adalah adanya kepercayaan dari si pemberi kredit adalah kepada si penerima kredit bahwa kredit yang disalurkannya pasti akan dikembalikan sesuai dengan perjanjian. Sedangkan bagi si penerima kredit merupakan penerimaan kepercayaan sehingga mempunyai kewajiban untuk membayar sesuai dengan jangka waktu. Aktifitas tukang kiridit tasik sudah terjadi sejak tahun 70-an hingga sekarang. Para Tukang kredit menyebar di beberapa kota besar di Indonesia . Aktifitas mereka sangat khas, memberikan kredit barang khususnya pada yang miskin, sasaran mereka adalah para ibu-ibu rumah tangga. Barang yang dikreditkan pun biasanya ketel,panci, termos, payung, bahkan kompor dan sebagainya. Tak heran jika mereka (tukang kredit)berkeliling , sepeda nya akan penuh dengan aneka jenis barang .

Tukang kredit terbagi menjadi dua, yaitu tukang kredit laki-laki dan tukang kredit perempuan. Tukang kredit laki-laki biasanya pergi ke kota merantau menjadi tukang kredit, sedangkan tukang kredit perempuan berada di desa-desa. aktifitas mereka sama, menawarkan kredit barang dengan sistem kepercayaan, dan sistem pembayarananya tidak rumit, bisa harian, mingguan, atau bulanan.

Para tukang kiridit tasik biasanya mereka satu keluarga besar. Tukang kiridit yang berhasil ia akan membawa saudaranya ke kota kemudian dilatih menjadi tukang kredit, sistem latihannya juga tidak rumit, biasanya mendampingi dulu, ikut mengenali medan, bagaimana cara berkomunikasi dengan sasaran(konsumen), mengamati kreditur untuk meyakinkan bahwa nanti ia tidak akan susah ditagih, mengenali medan, mengenal toko-toko yang menjual barang murah tetapi kualitasnya bagus yang akan dijadikan mitra. Tukang kredit baru biasanya dikenalkan untuk memiliki sikap ulet, sabar dalam menghadapi konsumen, rajin dan kepandaian menghitung.

Keberadaan tukang kredit bagi mereka yang miskin sangat dibutuhkan, sebab cukup terbantu mereka dalam pemenuhan barang-barang rumah tangga. Sayang, sering dengan pergeseran jaman para tukang kredit mulai terpinggirkan, padahal potensi dan keberadaan sangat baik. Keberadaan tukang kredit kadang dipandang sebagai rentenir yang melipatgandakan uang, padahal sistem kredit tukang kiridit berdasarkan kepercayaan dan persetujuan. Kelipatannya pun tidak terlalu besar, dan objeknya bukan uang, tapi objek yang ditawarkannya adalah barang. Seperti itu pandangan saya. Mungkin teman-teman punya pandangan lain.

Para tukang kiridit tasik, mereka tidak kaya. Hidup mereka sederhana, hanya memang pendapatan yang diperoleh biasanya dibelikan untuk membeli tanah, sawah dan dikampungnya. Regenerasi tukang kredit dalam keluarga besarnya memang menarik. Mereka memiliki ikatan kuat, terlihat dalam pembagian lahan sasaran kreditnya, terlihat juga dalam sistem melatih (mentranfer) kemampuan menjadi tukang kiridit bagi tukang kiridit baru. Jika anda pernah melihat film dokumenter karya Amirul Arham tentang sosok Muhamad Yunus dengan Garmeen Banknya di Bangladesh , tentu kita teringat dengan tukang kiridit tasik. O ya, film dokumenter ini mendapatkan hadiah nobel perdamaian tahun 2006.

Orang tasik ternyata perantau yang ulung juga, buktinya para tukang kredit menyebar diberbagai daerah. Meski diakui, tukang kredit tidak hanya berasal dari tasik, tetapi juga ada yang orang Ciamis. Melalui orang tasik juga lah sistem kiridit dikenal diberbagai daerah. Keberadaan tukang kiridit bahkan menjadi ide lagu Bang Ben (Benyamin, seniman Betawi), lagunya berjudul Tukang Kiridit...

Masih adakan mereka (tukang kiridit) ditahun-tahun mendatang?